Darisekitar 350 an pertanyaan disortir menjadi 159 pertanyaan, kemudian disusun menjadi buku Q&A. Bab 1 Sistem Manajemen Mutu Industri Farmasi ada 13 pertanyaan. Bab 2 Personalia ada 5 pertanyaan. Bab 3 Bangunan dan Fasilitas ada 10 pertanyaan. Bab 4 Peralatan ada 4 pertanyaan. Ketikaurine seseorang mengandung protein, bisa dipastikan ia mengalami gangguan fungsi ginjal. Dalam 24 jam setelah pengambilan sampel, sampel urine harus dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Hasil Pemeriksaan Protein Urine. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar protein urine Anda tinggi, hal ini bisa mengindikasikan WaOde Asriyani (P00320013137) Perbedaan Hasil Pemeriksaan Sedimen Urine Yang Diperiksa Kurang Dari Satu Jam Dan Lebih Dari Satu Jam Pada Pasien Suspek Infeksi Saluran Kemih (ISK) Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari. Dibimbing oleh ibu Sitti Pembentukanurin dimulai dalam glomerulus, apabila filtrasi glomerulus mengalami kebocoran hebat, molekul protein besar akan terbuang dalam urine sehingga menyebabkan proteinuria. Pada pasien yang telah menderita penyakit parenkhim ginjal, faktor kehamilan yang memasuki usia 20 minggu ini mungkin akan memperberat kebocoran protein urine. Jawaban B. glomerulus Dilansir dari Encyclopedia Britannica, hasil pemeriksaan laboratorium, menunjukkan bahwa urine mengandung protein. fakta ini terjadi sebagai akibat gangguan fungsi glomerulus. Hasilpemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa urin penderita mengandung protein. Fakta ini terjadi sebagai akibat gangguan fungsi ginjal di bagian. Pak Pandani 3/28/2019 10:22:00 PM 0. Soal: Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa urin penderita mengandung protein. Albuminuria adalah suatu kondisi di mana urin mengandung Qq81D. Gejala albuminuria ini juga merupakan tanda dari penyakit ginjal kronis. Selain itu, tingginya jumlah protein dalam urine juga akan menimbulkan kondisi bernama sindrom nefrotik. Sindrom nefrotik menyebabkan penimbunan air di dalam tubuh. Kelebihan air inilah yang akan membuat tubuh Anda membengkak di beberapa bagian. Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Kapan harus periksa ke dokter? Anda harus periksa ke dokter ketika telah merasakan satu atau lebih dari berbagai gejala. Terutama jika Anda mulai mengalami pembengkakan dan urine berbusa, segera kunjungi dokter agar mendapatkan penanganan secepatnya. Penyebab dan faktor risiko Apa penyebab albuminuria ginjal bocor? Protein bisa masuk ke dalam urine bila ginjal tidak bekerja dengan baik. Pembuluh darah dalam ginjal yang bernama glomerulus bekerja dengan menyaring produk sisa dari darah dan menjaga komponen yang diperlukan tubuh, termasuk protein. Glomerulus akan memastikan protein dan sel darah yang lebih besar tidak masuk ke dalam urine. Jika ada yang masuk pun bagian tubulus ginjal akan menangkap kembali protein tersebut dan menyimpannya di dalam tubuh. Namun ketika keduanya mengalami gangguan atau jika ada beban protein berlebihan, protein ini akan ikut mengalir dalam urine sehingga timbul kondisi albuminuria. Selain itu, adanya batu saluran kemih juga bisa menyebabkan proteinuria. Tak hanya penyakit yang berhubungan dengan ginjal, penyakit ini bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan yang berlangsung sementara seperti dehidrasi, peradangan, dan tekanan darah rendah. Olahraga yang terlalu intens, stres, pemakaian obat aspirin, dan paparan terhadap dingin adalah penyebab lain yang mungkin bisa menimbulkan terjadinya albuminuria. Apa yang meningkatkan risiko terkena kondisi ini? Ada beberapa faktor yang bisa membuat Anda lebih berisiko terkena ginjal bocor. Dua kondisi yang paling sering menjadi pemicunya yaitu penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi hipertensi. Jenis lain dari penyakit ginjal yang tidak terkait dengan diabetes atau tekanan darah tinggi juga dapat menyebabkan protein bocor ke urine. Faktor risiko lainnya meliputi obesitas, usia di atas 65, dan riwayat keluarga terhadap penyakit ginjal. Beberapa orang memiliki lebih banyak protein dalam urine saat berdiri daripada saat berbaring. Kondisi ini disebut orthostatic proteinuria. Ada juga berbagai kondisi yang turut memicu peningkatan kadar protein dalam urine, meliputi penyakit autoimun, kanker sel plasma multiple myeloma, penyakit jantung, peradangan ginjal akut, preeklampsia, komplikasi berupa tekanan darah tinggi pada ibu hamil, hemolisis intravaskular atau penghancuran sel darah merah dan pelepasan hemoglobin dalam aliran darah, serta kanker ginjal. Diagnosis Albuminuria dapat dideteksi dengan tes urine. Anda tak memerlukan persiapan khusus untuk melakukannya. Bahkan tes ini juga bisa dilakukan di rumah, mengikuti instruksi yang diberikan oleh dokter. Tes dipstick Tes sederhana yaitu tes urine dengan menggunakan dipstick strip plastik kecil dengan kertas indikator yang dapat mendeteksi jumlah protein yang sangat kecil. Nantinya jika ada terlalu banyak zat yang terkandung pada urine, bagian ujungnya akan berubah warna. Karena protein dalam urine hanya bisa bertahan sementara, tes ini harus dilakukan secara rutin untuk menentukan apakah Anda benar-benar mengalami masalah pada ginjal. Tes dipstick sangat sensitif, tapi belum bisa benar-benar memastikan adanya kondisi albuminuria. Sebab, tes ini belum dapat mengukur dengan persis seberapa banyak protein albumin dalam urine. Untuk mendapatkan pengukuran yang tepat, urine harus diperiksa di laboratorium. Ketika hasilnya belum meyakinkan, sisa urine diperiksa di bawah mikroskop. Dari pengamatan tersebut, dokter akan mengetahui zat-zat yang seharusnya tak ada pada urine, seperti sel darah merah dan putih, bakteri, atau kristal yang bisa tumbuh menjadi batu ginjal. Satu kali hasil tes urine yang positif mengandung protein belum bisa menentukan apakah Anda benar-benar mengalami penyakit ginjal. Namun jika hasil tetap positif setiap Anda melakukan tesnya, maka besar kemungkinan ginjal mengalami masalah. Tes kadar albumin dan kreatinin Tes ini dilakukan untuk menunjukkan seberapa banyak kadar protein albumin dan kreatinin yang telah dikeluarkan dalam 24 jam pada urine. Kreatinin adalah produk limbah yang telah disaring di ginjal lalu dikeluarkan dengan mengalirnya urine. Albumin-to-creatinine ratio ACR dikatakan tinggi bila hasilnya di atas 30, hal ini menunjukkan adanya kemungkinan proteinuria. Semakin tinggi levelnya, akan semakin berbahaya pula dampaknya. ACR yang berkisar antara 3 – 30 biasanya tidak memerlukan tindakan, tetapi pasien perlu melakukan pemeriksaan setiap tahun. Sementara ACR yang kurang dari 3 mg/mmol tidak memerlukan tindakan lebih lanjut. Pemeriksaan lebih lanjut Apabila ACR tinggi, dokter akan melihat riwayat kesehatan pasien dan keluarganya, lalu melakukan pemeriksaan ginjal lebih lanjut. Pemeriksaan tersebut bisa meliputi Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar kreatinin, protein, dan memperkirakan laju filtrasi glomerulus. Tes ini juga bisa menjadi gambaran atas seberapa baik ginjal Anda bekerja. Tes pemindaian. Tes seperti CT scan atau ultrasounds dapat menunjukkan gambar ginjal yang akan membantu dokter menemukan masalah di dalamnya. Elektroforesis protein urine. Dokter akan melihat jenis protein tertentu dalam sampel urine yang bisa mengindikasikan suatu penyakit. Tes darah imunoterapi. Tes bertujuan untuk menemukan protein bernama imunoglobulin yang merupakan antibodi pelawan infeksi dalam darah. Biopsi ginjal. Prosedur ini melibatkan pengangkatan sebagian kecil organ ginjal. Nantinya sampel ini akan diperiksa di bawah mikroskop. Pengobatan ginjal bocor Albuminuria bukanlah penyakit yang spesifik, sehingga perawatan tergantung pada identifikasi dan penanganan penyebab. Umumnya, jika proteinuria yang diderita cenderung normal, Anda tidak memerlukan perawatan. Lain lagi apabila kondisi disebabkan oleh penyakit ginjal, perawatan medis yang tepat sangat penting dilakukan. Penyakit ginjal kronis yang tidak diatasi dapat menyebabkan gagal ginjal. Obat-obatan kadang diberikan, terutama pada orang dengan diabetes dan/atau tekanan darah tinggi. Obat dapat berasal dari dua kelas obat, yaitu ACE angiotensin-converting enzyme inhibitors dan ARB angiotensin receptor blockers. Dua jenis obat tersebut sebenarnya lebih banyak digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah. Namun pada pasien yang mengalami albuminuria, obat ini bisa membantu melindungi ginjal dari kerusakan. Perawatan yang tepat–terutama pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi–penting dilakukan untuk mencegah kerusakan ginjal progresif yang menyebabkan timbulnya kondisi albuminuria. Pada pasien dengan diabetes dan tekanan darah tinggi, pasien yang mengalami albuminuria juga harus mengontrol kadar gula darah. Selain itu, pasien diabetes harus melakukan tes laju filtrasi glomerulus GFR setiap tahunnya. Jika ada masalah pada ginjal, pasien akan dirujuk ke nephrologist, dokter yang berspesialisasi dalam bidang penyakit ginjal. Sedangkan jika albuminuria terjadi pada ibu hamil yang memiliki preeklamsia, kondisinya harus lebih diawasi. Untungnya, kebanyakan albuminuria akan sembuh sendiri setelah bayinya lahir. Walau jika pasien tidak memiliki penyakit lain seperti diabetes, masalah tekanan darah, atau kondisi lain, obat tekanan darah mungkin masih akan diresepkan untuk mencegah kerusakan ginjal. Pengobatan albuminuria di rumah Karena kondisi ini bisa disebabkan oleh penyakit yang Anda derita, maka Anda harus melakukan perawatan yang bertujuan untuk menjauhi hal-hal yang menjadi pemicu gejalanya. Namun, umumnya Anda harus melakukan berbagai perubahan, terutama pada pola makan Anda. Di bawah ini cara yang dapat membantu Anda mengatasi albuminuria. Jika Anda memiliki kondisi retensi air yang menyebabkan albuminuria, batasi jumlah asupan garam beserta air pada pola makan harian. Natrium dalam garam juga meningkatkan tekanan kapiler glomerulus yang membuat kerjanya jadi terganggu. Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, juga kurangi garam dalam makanan, dan atur pola makan dengan baik. Jagalah berat tubuh Anda tetap pada angka yang sehat. Obesitas kegemukan sudah sering menjadi pemicu akan timbulnya berbagai masalah kesehatan, tak terkecuali untuk kesehatan ginjal dan sistem urinasi Anda. Selain makan makanan sehat, buat juga tubuh Anda menjadi lebih aktif dengan berolahraga atau aktivitas fisik lainnya. Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda. Berikut ini adalah soal-soal materi sistem ekskresi untuk siswa SMA kelas XI. Kunci jawaban di bawah soal. 1. Perhatikan beberapa organ tubuh manusia di bawah ini! 1. paru-paru 2. jantung 3. ginjal 4. lambung 5. limpa Di antara organ tersebut yang berfungsi sebagai alat ekskresi adalah …. a. 1 dan 2 b. 1 dan 3 c. 2 dan 4 d. 3 dan 5 e. 4 dan 5 2. Bagian-bagian ginjal dari luar ke dalam adalah…. a. pelvis-medula-korteks b. korteks-medula-pelvis c. medula-korteks-pelvis d. korteks-pelvis-medula e. medula-pelvis-korteks 3. Hasil tes urine Bu Siska menunjukkan adanya glukosa. Hal ini disebabkan adanya kelainan fungsi ginjal dalam proses …. a. filtrasi b. augmentasi c. reabsorpsi d. defekasi e. ekskresi 4. Perhatikan tabel hasil tes urin di bawah ini Urin Amir dites benedict hasil Hijau, dites biuret hasil Kekuningan Urin Budi dites benedict hasil Biru muda, dites biuret hasil Ungu Urin Adi dites benedict hasil Merah bata, dites biuret hasil Kekuningan Dari tabel di atas Budi dan Adi mengalami kelainan…. a. albuminuria dan diabetes mellitus b. diabetes mellitus dan albuminuria c. albuminuria dan diabetes insipidus d. diabetes insipidus dan diabetes mellitus e. diabetes mellitus dan kerusakan nefron 5. Hasil pemeriksaan laboratorium, menunjukkan bahwa urin mengandung protein. Fakta ini terjadi sebagai akibat gangguan fungsi …. a. tubulus kontortus proximal b. glomerulus c. tubulus kontortus distal d. kapsul Bowman e. tubulus renalis 6. Perhatikan beberapa gangguan berikut ini! 1. radang pada tubulus proximal 2. kekurangan hormon antidiuretik 3. radang pada pankreas 4. radang pada hati Gangguan yang menyebabkan kelainan pada fungsi ginjal adalah …. a. 1 dan 2 b. 3 dan 4 c. 2 dan 3 d. 1 dan 4 e. 2 dan 4 7. Organ tubuh yang mempunyai fungsi menghasilkan bilirubin adalah ….. a. hati b. kulit c. paru-paru d. ginjal e. pancreasBelum paham tentang pembentukan bilirubin? Baca dulu artikel iniBilirubin Fungsi dan Proses Pembentukannya 8. Yang akan terjadi apabila terjadi sekresi ADH yang berlebihan adalah…. a. pengeluaran urin sangat banyak b. ginjal giat menyaring plasma darah c. terjadi reabsorbsi glukosa d. warna urin menjadi sangat pekat e. tidak terjadi filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi 9. Peran hati dalam memudahkan pencernaan lemak adalah dengan…. a. menawarkan racun yang ada pada lemak b. mengubah lemak menjadi glukosa c. menghasilkan cairan empedu d. mendegradasi lemak menjadi asam amino e. mengurangi kadar kolesterol 10. Perhatikan keterangan di bawah ini 1. tempat pembongkaran sel darah merah 2. tempat sintesis asam lemak 3. mengubah glukosa menjadi glikogen 4. tempat penyimpanan vitamin C dari keterangan di atas yang meupakan fungsi dari hati adalah…. a. 1 dan 2 b. 1 dan 3 c. 2 dan 4 d. 3 dan 4 e. 2 dan 3 11. Yang terjadi apabila hati sebagai organ ekskresi mengalami kerusakan adalah…. a. dalam tubuh banyak terdapat senyawa toksik b. tubuh akan mengalami kekurangan cairan c. pencernaan lemak di usus akan terganggu d. gagal melakukan sintesis protein e. pembentukan bilirubin terganggu 12. Selaput pembungkus paru-paru disebut…. a. pleura b. bronkus c. epicardium d. diafragma e. trakhea 13. Fungsi paru-paru sebagai organ ekskresi adalah…. a. menyerap O2 b. mengeluarkan CO2 c. membersihkan darah d. mensekresikan bilirubin e. mengeluarkan urea 14. Organ manusia yang bertanggung jawab mengekskresikan sisa-sisa metabolisme dalam darah adalah…. a. ginjal dan paru-paru b. ginjal dan kulit c. paru-paru dan jantung d. paru-paru dan kulit e. hati dan kulit 15. Di bawah ini merupakan faktor yang TIDAK mempengaruhi pengeluaran keringat pada manusia adalah…. a. emosi b. umur c. suhu d. rangsangan saraf e. aktivitas 16. Perhatikan gambar berikut Bagian kulit yang berfungsi menghasilkan keringat ditunjukkan oleh nomor …. a. 1 b. 2 c. 3 d. 4 e. 5 17. Fungsi keringat yang diekskresikan kulit adalah untuk…. a. menjaga kelembaban kulit b. mencegah kerusakan enzim tubuh c. menjaga kelangsungan hidup melanosit d. melindungi dari infeksi bakteri e. menghindari kerusakan kulit 18. Anjing tidak memiliki kelenjar keringat, cara anjing untuk mengurangi panas dalam tubuhnya adalah dengan cara…. a. jarang bergerak aktif b. sering minum air c. membuka mulut cukup lebar d. mengkibas-kibaskan ekornya e. duduk diam tak bergerak 19. Alat ekskresi pada serangga berupa…. a. kloaka b. pembuluh Malpighi c. ginjal d. saluran urogenital e. trakhea 20. Ikan air tawar akan banyak mengeluarkan urin dan sedikit minum air karena…. a. kadar mineral di air tawar rendah sehingga air dari lingkungan akan berosmosis ke dalam tubuh ikan b. kadar mineral di air tawar rendah sehingga air dari dalam tubuh akan berosmosis ke luar lingkungan c. kadar mineral di air tawar cukup tinggi sehingga air dari lingkungan akan berosmosis ke dalam tubuh ikan d. kadar mineral di air tawar cukup tinggi sehingga air dari dalam tubuh ikan akan berosmosis ke luar lingkungan e. kadar mineral di air tawar sama dengan kadar mineral dalam tubuh ikan sehingga ikan tidak banyak minum air Kunci jawaban Pengujian kandungan urine dengan larutan Benedict bertujuan untuk menguji keberadaan glukosa di dalam urine. Urine yang mengandung glukosa akan berwarna merah bata atau jingga setelah dilakukan pengujian tersebut. Adapun larutan Biuret dapat digunakan untuk menguji keberadaan protein dalam urine. Urine yang mengandung protein akan terbentuk endapan berwarna ungu setelah diberi larutan tersebut. Berdasarkan tabel hasil pengujian uji urine pasien tersebut, urine berubah menjadi warna ungu setelah diuji larutan Biuret dan terdapat endapan merah bata setelah diuji larutan Benedict. Hal ini menunjukkan bahwa urine pasien tersebut mengandung protein dan glukosa sehingga pasien tersebut menderita penyakit albuminuria dan glukosuria. Albuminuria adalah ditemukannya protein albumin pada urine. Adanya albumin dalam urine merupakan indikasi adanya kerusakan pada membran glomerulus. Adapun glukosuria adalah ditemukannya glukosa pada urine. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan pada badan Malpighi. Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat-zat sisa metabolisme yang sudah tidak digunakan oleh tubuh. Salah satu bentuk ekskresi adalah buang air kecil, hasil buangan itu antara lain berupa urinee. Akan tetapi, sebenarnya hasil buangan tidak hanya berupa urinee saja. Zat buangan lainnya dapat berupa keringat, gas karbon dioksida,serta zat warna empedu Cambell, 1999. Salah satu hasil ekskresi dari sistem ekskresi ginjal yaitu urine. Urine terbentuk melalui 3 tahap, yaitu proses filtrasi, re-absorpsi dan augmentasi. Pada tahap filtrasi yang terjadi di glomerulus akan menghasilkan urine primer, glukosa, asam amino, garam, air, urea, asam urat, ion. Lalu terjadi penyerapan kembali pada tahap reabsorpsi dan menghasilkan urine sekunder. Kemudian pada tahap yang terakhir terjadi penambahan zat sisa seperti urea, asam urat, sisa obat, H, NH4 Cambell, 1999. Urine yang dihasilkan oleh setiap orang tentu berbeda–beda. Banyak sedikitnya urine yang dikeluarkan tiap harinya dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya, zat – zat deuretik seperti kopi, teh, alkohol, kemudian dipengaruhi juga oleh suhu, volume larutan dalam darah dan emosi seseorang. Pada praktikum ini akan dilakukan pengamatan pada urine, khususnya kandungan glukosa dan protein. Karena kedua unsur ini menentukan kerja dari sistem organ ekskresi, yatu ginjal. Pemeriksaan protein urine adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai jumlah protein yang terdapat dalam urine. Jika ternyata diketahui terdapat kelebihan protein dalam urine, hal ini dapat mengindikasikan penyakit tertentu, khususnya kelainan pada ginjal. Pada kondisi ginjal yang sehat, normalnya tidak ditemukan kadar protein dalam urine. Bila memang ditemukan, jumlahnya pun hanya sedikit. Namun, bila ginjal mengalami gangguan, maka kemampuan ginjal untuk menyaring dan menyerap protein dalam darah akan terganggu. Akibatnya, kondisi ginjal yang bocor tersebut akan membuat sejumlah protein terbuang melalui urine. Untuk menentukan apakah terdapat gangguan ginjal yang ditandai dengan terbuangnya protein melaui urine, diperlukan pemeriksaan protein urine. Dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan protein urine sebagai bagian dari medical check-up atau tes urine rutin. Namun, di luar keperluan tersebut, dokter juga sering kali akan menyarankan pemeriksaan protein urine pada pasien dengan penyakit diabetes, darah tinggi, atau gangguan ginjal. Selain itu, pemeriksaan urine juga biasanya dilakukan pada ibu hamil untuk mendeteksi apakah terdapat protein pada urine, yang merupakan salah satu tanda preeklamsia. Persiapan Sebelum Pemeriksaan Protein Urine Sebelum melakukan pemeriksaan protein urine, dokter biasanya akan menanyakan apakah Anda sedang menjalani mengonsumsi obat-obatan tertentu, baik obat bebas maupun obat resep. Obat-obatan tertentu dapat memengaruhi kadar protein dalam urine, sehingga Anda mungkin diminta untuk menghentikan konsumsi obat untuk sementara waktu. Obat-obatan yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan protein urine antara lain Antibiotik Antijamur Obat antiinflamasi nonsteroid OAINS Obat untuk mengatasi rheumatoid arthritis, seperti penicillamine Cuprimine Litium atau obat untuk gangguan bipolar Heroin Saat hendak menjalani pemeriksaan protein urine, Anda juga mungkin disarankan oleh dokter untuk banyak minum air dan menghindari olahraga atau aktivitas fisik berat selama beberapa waktu. Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Protein Urine Pemeriksaan protein urine terdiri dari 2 jenis, yakni pemeriksaan urine sewaktu dan pemeriksaan urine 24 jam. Pemeriksaan urine 24 jam ini dilakukan pada sampel urine yang terkumpul dalam waktu 24 jam terakhir. Prosedur pengambilan sampel bisa dilakukan di laboratorium maupun di rumah. Dalam pemeriksaan urine acak, kadar normal protein dalam urine berkisar antara 0–20 mg/dL. Sementara untuk pemeriksaan protein urine 24 jam, nilai normalnya adalah kurang dari 80 mg/dL. Meski demikian, standar nilai normal protein urine bisa berbeda-beda tergantung laboratorium tempat Anda menjalani pemeriksaan. Langkah-langkah pengambilan sampel dilakukan dengan cara berikut Cuci tangan sampai bersih. Bersihkan organ kelamin dengan tisu pembersih yang diberikan dokter. Bagi pria, bersihkan bagian lubang saluran kemih di ujung penis. Sementara bagi wanita, usapkan tisu pembersih dari arah vagina menuju anus. Saat buang air kecil, buanglah urine di wadah steril khusus yang sudah disediakan. Usahakan agar tidak menyentuh bagian dalam wadah sampel karena dapat menyebabkan kontaminasi. Tes urine acak bisa dilakukan setiap saat. Namun, jika dilakukan di rumah, lakukanlah pengambilan dan penyimpanan sampel sesuai arahan dokter atau petugas laboratorium. Saat sampel urine telah terkumpul, biasanya petugas laboratorium akan menuliskan nama Anda beserta tanggal dan waktu pengambilan sampel urine. Anda kemudian bisa diminta untuk mencocokkan nama agar tidak terjadi kesalahan dalam pemeriksaan urine. Bila sampel urine dikumpulkan di rumah dan tidak memungkinkan untuk segera dibawa ke laboratorium, simpanlah wadah sampel di kulkas atau wadah tertutup berisi es. Dalam 24 jam setelah pengambilan sampel, sampel urine harus dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Hasil Pemeriksaan Protein Urine Setelah sampel dikumpulkan, dokter atau petugas laboratorium akan melakukan analisis untuk menilai kadar protein urine. Pemeriksaan protein urine bisa dilakukan dengan metode tes celup atau dip stick dan metode kuantitatif menggunakan mesin khusus. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar protein urine Anda tinggi, hal ini bisa mengindikasikan adanya gangguan kesehatan, seperti Gangguan ginjal, meliputi infeksi ginjal atau infeksi saluran kemih, gagal ginjal akut maupun kronis, sindrom nefrotik, dan glomerulonefritis Gangguan jantung, meliputi gagal jantung, endokarditis, dan penyakit jantung Diabetes Tekanan darah tinggi atau hipertensi Penyakit limfoma Hodgkin Gangguan autoimun, seperti rheumatoid arthritis dan lupus Preeklamsia Malaria Meski demikian, kadar protein yang tinggi tidak selalu mengindikasikan penyakit. Terkadang, terdapatnya protein pada urine bisa juga disebabkan oleh dehidrasi, efek samping obat-obatan atau suplemen, olahraga berat, gangguan emosional, hipotermia, dan demam. Selain itu, hasil tes urine juga dapat dipengaruhi beberapa hal, mulai dari kebersihan wadah yang digunakan, cara penyimpanan sampel, dan waktu dilakukannya pemeriksaan urine melebihi 24 jam setelah sampel dikumpulkan atau tidak. Setelah pemeriksaan protein urine selesai, biasanya Anda akan diberikan laporan hasilnya. Hasil pemeriksaan tersebut perlu Anda ambil dan bawa kembali ke dokter. Jika hasilnya menunjukkan adanya gangguan pada ginjal, maka dokter dapat memberikan penanganan lanjutan untuk mengobati penyakit tersebut.

hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa urine mengandung protein